Di dunia kerja, seseorang membutuhkan kualifikasi ilmu untuk menunjukkan kualitas. Bisa ditilik dari pengalaman, bidang ilmu, nilai akademis, dan almamater. Belakangan bisa disaksikan bahwa almamater adalah kualifikasi yang paling ditekankan. Bila anda seorang lulusan suatu Institut/Perguruan Tinggi ternama walau dengan nilai cukup akan jauh lebih mendapat kepercayaan dan amanat untuk mendapat suatu jabatan. Beda dengan lulusan Perguruan tinggi “biasa”, walau dengan nilai akademis baik pun akan sedikit lebih repot. Entah mulai kapan dan kenapa ini menjadi stereotip, karena seseorang tidak bisa dinilai secara obyektif, karena tinggi rendahnya kualitas individu tidaklah melulu ditentukan suatu Institut. Mungkin karena alasan-alasan inilah maka banyak terjadi kasus disaat SPMB, mulai dari joki ujian sampai kasus yang paling aneh tapi tetap terjadi setiap tahun, orang tua menentukan anak harus menuntut ilmu ke institut pilihan mereka, terserah mau diterima di fakultas apapun yang terpenting adalah bisa masuk ke Institut tersebut. Apalah arti sebuah kebanggaan orang tua jika menuntut ilmu tidak sesuai minat anak maka kecenderungan yang akan terjadi adalah
- Drop out.
- Lulus dengan nilai rendah yang berbuntut ke “penyogokan”.
Yang didapat hanyalah ‘krisis moral’ yang semakin menjadi. Ilmu yang ditimba dengan mengeluarkan biaya tidak akan bisa diaplikasikan ke masyarakat.


















Personal computer: yang dirujuk sebagai PC adalah jenis komputer terpopuler yang digunakan saat ini. 'Personal computer' adalah komputer yang dirancang untuk digunakan oleh seseorang pada satu saat. 'Personal computer' dapat digolongkan ke dalam dua ...































